Sunday, December 12, 2010

Perilaku Verbal dan Non-Verbal pada Komunikasi Lintas Budaya

4

PERILAKU VERBAL DAN NON VERBAL PADA KOMUNIKASI LINTAS BUDAYA

Dalam kebanyakan peristiwa komunikasi yang berlangsung, hampir selalu melibatkan penggunaan lambang-lambang verbal dan non verbal secara bersama-sama. keduanya , bahasa verbal dan non verbal, memiliki sifat yang holistic( masing-masing tidak dapat dipisahkan). Dalam banyak tindakan komunikasi , bahasa non verbal menjadi komplemen atau pelengkap bahasa verbal. Lambang-lambang non verbal juga dapat berfungsi kontradiktif, pengulangan, bahkan pengganti ungkapan-ungkapan verbal, misalnya ketika seseorang mengatakan terima kasih( bahasa verbal) maka orang tersebut akan melengkapinya dengan tersenyum( bahasa non verbal), seseorang setuju dengan pesan yang disampaikan orang lain dengan anggukan kepala ( bahasa non verbal). Dua komunikasi tersebut merupakan contoh bahwa bahasa verbal dan non verbal bekerja bersama-sama dalam menciptakan makna suatu perilaku komunikasi.

A. PERILAKU VERBAL DALAM KOMUNIKASI LINTAS BUDAYA

Perilaku verbal sebenarnya adalah komunikasi verbal yang biasa kita lakukan sehari-hari. Simbol atau pesan verbal adalah semua jenis symbol yang menggunakan kata-kata atau lebih. Hampir semua rangsangan wicara yang kita sadari termasuk ke dalam kategori pesan disengaja, yaitu usaha-usaha yang dilakukan secara sadar untuk berhubungan dengan orang lain secara lisan.

Suatu system kode verbal disebut bahasa. Bahasa dapat didefinisikan sebagai perangkat simbol, dengan aturan untuk mengkombinasikan simbol-simbol tersebut, yang digunakan dan dipahami suatu komunitas .

Bahasa verbal adalah sarana utama untuk menyatakan fikiran, perasaan dan maksud kita. Bahasa verbal menggunakan kata-kata yang mempresentatifkan berbagai aspek realitas individu kita. Dengan kata lain, kata-kata adalah abstraksi realitas kita yang tidak mampu menimbulkan reaksi yang merupakan totalitas objek atau konsep yang mewakili kata-kata itu. Misalnya kata rumah, kursi atau mobil. Realitas apa yang mewakili setiap kata itu?. Begitu banyak ragam rumah, ada rumah bertingkat, rumah mewah, rumah sederhana, rumah hewan, rumah tembok, rumah bilik, dan yang lainnya. Begitu juga kursi, ada kursi jok, kursi kerja, kursi plastik, kursi malas, dan sebagainya. Kata mobil-pun ternyata tidak sederhana, ada sedan, truk, minibus, ada mobil pribadi, mobil angkutan dan sebagainya.

Bila kita menyertakan budaya sebagai variable dalam proses komunikasi tersebut, maka masalahnya akan semakin rumit. Ketika kita berkomunikasi dengan seseorang dari budaya kita sendiri, proses komunikasi akan jauh lebih mudah, karena dalam suatu budaya orang-orang berbagi sejumlah pengalaman serupa. Namun bila komunikasi melibatkan orang-orang berbeda budaya, banyak pengalaman berbeda dan akhirnya proses komunikasi juga menyulitkan.

Fungsi bahasa dalam kehidupan manusia.

Kita sering tidak menyadari pentingnya bahasa, karena kita sepanajang hidup menggunakannya. Kita baru sadar bahasa itu penting ketika kita menemui jalan buntu dalam menggunakan bahasa, misalnya ketika kita berupaya berkomunikasi dengan orang yang sama sekali tidak memahami bahasa kita yang membuat frustasi ; ketika kita sulit menerjamahkan suatu kata, frase atau kalimat dari suatu bahasa ke bahasa lain; ketika kita harus menulis lamaran atau diwawancarai dalam bahasa inggris untuk memperoleh pekerjaan yang bagus.

Fungsi bahasa yang mendasar adalah untuk menamai atau menjuluki orang ,objek dan peristiwa. Setiap orang mempunyai nama untuk identifikasi sosial. Orang juga dapat menamai apa saja, objek-objek yang berlainan,termasuk perasaan tertentu yang mereka alami. Penanaman adalah dimensi pertama bahasa dan basis bahasa pada awalnya dilakukan manusia sesuaka mereka yang lalu menjadi konvensi(Aubrey Fisher dan Catherine Adam,1994). Suatu objek mempunyai beberapa tingkat abstraksi .ibu kita adalah ibu,ibu adalah wanita, wanita adalah manusia ,manusia adalah makhluk hidup dan makhluk hidup adalah ciptaan Tuhan . semakin luas kelasnya, semakin abstrak konsep tersebut.sepanjang hidup kita sebenarnya belajar mengabstraksikan segala sesuatu.

Menurut Larry L. Barker dalam Mulyana (2007), bahasa memiliki 3 fungsi ;penanaman(naming atau labeling), interaksi, dan transmisi informasi. Penanaman atau penjulukan merujuk pada usaha mengidentifikasi objek , tindakan, atau orang dengan menyebut namanya,sehingga dapat dirujuk dalam komunikasi . Fungsi interaksi menurut barker, menekankan berbagai gagasan dan emosi yang dapat mengundang simpati dan pengertaian atau kemarahan dan kebingungan. Melalui bahasa, informasi dapat disampaikan kepada orang lain. Anda juga menerima informasi setiap hari, sejak bangun tidur hingga anda bangun kembali, dari orang lain, baik secara langsung maupun tidak ( melalui media massa, misalnya). Fungsi bahasa inilah yang disebut fungsi transmisi. Barker berpandangan , keistimewaan bahasa sebagai transmisi informasi yang lintas waktu, dengan menghubungkan masa lalu, masa kini dan masa yang akan dating, memungkinkan kesinambungan budaya dan tradisi kita. Tanpa bahasa kita tidak mungkin bertukar informasi; kita tidak mungkin menghadirkan semua objek dan tempat untuk kita rujuk dalam komunikasi kita.

Menurut Mulyana( 2007),menambahkan agar komunikasi kita berhasil, bahasa harus memenuhi tiga fungsi yaitu: untuk mengenal dunia disekitar kita; berhubungan dengan orang lain; dan untuk menciptakan koherensi dalam hidup kita. Melalui fungsi pertama kita dapat mempelajari apa saja yang menarik minat kita, mulai dari sejarah yang hidup pada masa lalu seperti Mesir Kuno. Kita juga dapat berbagi pengalaman masa lalu dan masa kini yang kita alami, dan juga pengetahuan yang kita dapatkan dari berbagai media. Fungsi bahasa kedua adalah sebagai sarana untuk berhubungan dengan orang lain. Fungsi ini berkaitan dengan fungsi komunikasi khususnya fungsi sosial dan fungsi instrumental. Bahasa memungkinkan kita bergaul dengan orang lain untuk kesenangan kita dan untuk mempengaruhi mereka untuk mencapai tujuan. Melaui bahasa kita dapat mengandalikan lingkungan kita, termasuk orang-orang disekitar kita. Kemampuan orang lain dengan orang lain tidak hanya tergantung pada bahasa yang sama, namun juga pengalaman yang sama dan makna yang sam dalam kata-kata yang kita sampaikan. Sedangkan fungsi ketiga memungkinkan kita untuk hidup lebih teratur, saling memahami diantara kita, baik kepercayaan maupun tujuan-tujuan kita. Kita tidak mungkin menjelaskan semua itu dengan menyusun kata-kata secara acak melainkan berdasarkan aturan-aturan tertentu yang telah kita sepakati bersama. Akan tetapi kita sebenarnya tidak selamanya dapat memenuhi ketiga fungsi tersebut, karena meskipun bahasa merupakan sarana komunikasi dengan manusia lain, sarana ini secara inheren mengandung kendala karena keterbatasan sifatnya. Seperti dikatakan S.I Hayakawa;” kata itu bukan objek”. Bila orang-orang memaknai suatu kata secara berbeda, maka akan timbul kesalahpahaman diantara mereka.

Setiap diskusi tentang bahasa dalam peristiwa-peristiwa antar budaya harus mengikut sertakan pembahasaan atas isu-isu bahasa yang umum sebelum membahas masalah-masalah khusus tentang bahas asing, penerjemahan bahasa dan dialek serta logat sub kultur dan sub kelompok. Untuk itu bila kita membicarakan berbagai dimensi budaya kitra juga akan membicarakan bahasa verbal dan relevansinya dengan pemahaman kita tentang budaya. ( Mulyana & Rakhmat, 2005)

Secara sederhana bahasa dapat diartikan sebagai suatu sistem lambing terorganisasikan, disepakati secara umum dan merupakan hasil belajar yang digunakan untuk menyajikan pengalaman –pengalaman dalam suatu komunitas geografis dan budaya.

Bahasa merupakan alat utama yang digunakan budaya untuk menyalurkan kepercayaan, nilai dan norma. Bahasa merupakan alat bagi orang-orang untuk berinteraksi dengan orang-orang lain dan juga sebagai alat untuk alat berpikir. Maka bahasa berfungsi sebagai suatu mekanisme untuk berkomunikasi dan sekligus sebagai pedoman untuk melihat realitas sosial. Bahasa mempengaruhi persepsi , menyalurkan dan turut membentuk pikiran. Kemempuan menyampaikan pesan verbal antar budaya.

Menurut Ohoiwutun (1997)dalam Liliweri (2003), dalam berkomunikasi antar budaya ada beberapa hal yang harus diperhatikan yaitu;1) kapan orang berbicara; 2)apa yang dikatakan; 3)hal memperhatikan; 4) intonasi; 5) gaya kaku dan puitis serta 6)bahasa tidak langsung. Ke enam hal tersebut adalah saat yang tepat bagi seseorang untuk menyampaikan pesan verbal dalam komunikasi antar budaya.

1) Kapan Orang Berbicara

Jika kita berkomunikasi antar budaya perlu diperhatikan ada kebiasaan (habits) budaya yang mengajarkan kepatutan kapan seorang harus atau boleh berbicara. Orang Timor, Batak, Sulawesi, Ambon, Irian, mewarisi sikap kapan saja bisa berbicara, tanpa membedakan tua dan muda, artinya berbicara semaunya saja, berbicara tidak mengenal batas usia. Namun orang Jawa dan Sunda mengenbal aturan atau kebiasaan kapan orang berbicara, misalnya yang lebih muda mendengarkan lebih banyak daripada yang tua, yang tua lebih bayak berbicara dari yang muda. Perbedaan norma berbahasa ini dapat mengakibatkan konflik antarbudaya hanya karena salah memberikan makna kapan orang harus berbicara.

2) Apa yang DIkatakan

Laporan penelitian Tannen (1984-an) menunjukan bahwa orang-orang New York keturunan Yahudi lebih cenderung berceritera dibanding dengan teman-temannya di California. Ceritera mereka(New York Yahudi) selalu terkait dengan pengalaman dan perasaan pribadi .Masing-masing anggota kelompok kurang tertarik pada isi ceritera yang di-kemukakan anggota kelompok lainnya .

3) Hal Memperhatikan

Konsep ini berkaitan erat dengan gaze atau pandangan mata yang diperkenankan waktu berbicara bersama-sama .Orang-orang kulit hitam biasanya berbicara sambil menatap mata dan wajah orang lain, hal yang sama terjadi bagi orang Batak dan Timor. Dalam berkomunikasi ‘memperhatikan’ adalah melihat bukan sekedar mendengarkan. Sebaliknya oran Jawa tidak mementingkan ‘melihat’ tetapi mendengarkan. Anda membayangkqan jika seorang Jawa sedang berbicara dengan orang Timor yang terus menerus menatap mata orang Jawa ,maka si Jawa merasa tidak enak dan bahkan menilai orang Timor itu sangat kurang ajar. Sebaliknya orang Timor merasa dilecehkan karena si Jawa tidak melihat dia waktu memberikan pengarahan.

4) Intonasi

Masalah intonasi cukup berpengaruh dalam berbagai bahasa yang berbeda budaya . Orang kadang di Lembata/Flores memakai kata bua berarti melahirkan namun kata yang sama kalau di tekan pada huruf akhir’a’-bua’(atau buaq),berarti berlayar ;kata laha berarti marah tetapi kalau disebut tekanan di akhir ‘a’-lahaq merupakan maki yang merujuk pada alat kelamin laki-laki.

5) Gaya Kaku atau Puitis

Ohoiwutun (1997:105) menulis bahwa jika anda membandingkan bahasa Indonesia yang diguratkan pada awal berdirinya Negara ini dengan gaya yang dipakai dewasa ini, dekade 90-an maka anda akan dapati bahwa bahasa Indonesia tahun 1950-an lebih kaku. Gaya bahasa sekarang lebih dinamis lebih banyak kata dan frase dengan makna ganda, tergantung dari konteksnya. Perbedaan ini terjadi sebagai akibat perkembangan bahasa. Tahun 1950-an bahasa Indonesia hanya dipengaruhi secara dominan oleh bahasa Melayu.

Dewasa ini puluhan bahasa daerah, teristimewa bahaqsa Jawa dengan puluhan juta penutur aslinya, telah ikut mempengaruhi ‘ formula’ berbahasa Indonesia. Anehnya bila berkunjung ke Yunani anda akan mengalami gaya berbahasa Yunani seperti yang kita alami di Indonesia sekarang ini. Disebut aneh karena Yunani tidak mengalami pengaruh berbagai bahasa dalam sejarah perkembangan bahasanya seperti yang dialami Indonesia.

6) Bahasa Tidak Langsung

Setiap bahasa mengajarkan kepada para penuturnya mekanisme untuk menyatakan sesuatu secara langsung atau tidak langsung. Jika anda berhadapan dengan orang Jepang, maka anda akan menemukan bahwa mereka sering berbahasa secara tidak langsung, baik verbal maupun non verbal. Dalam berbisnis, umumnya surat bisnis Amerika, menyatakan maksudnya dalam empat paragraph saja.

B. PERILAKU NON VERBAL DALAM KOMUNIKASI LINTAS BUDAYA

Kita mempersepsi manusia tidak hanya lewat bahasa verbalnya; bagaimana bahasanya (halus, kasar, intelektual, mampu berbahasa asing dan sebagainya), namun juga melalui perilaku non verbalnya. Pentingnya perilaku non verbal ini misalnya dilukiskan dalam frase, ”bukan apa yang ia katakan tapi bagaimana ia mengatakannya”. Lewat perilaku non verbalnya, kita dapat mengetahui suasana emosional seseorang, apakah ia bahagia, bingung atau sedih.

Secara sederhana, pesan non verbal adalah semua isyarat yang bukan kata-kata. Menurut Larry A. Samovar dan Richard E. Porter (1991), komunikasi non verbal mencakup semua rangsangan kecuali rangsangan verbal dalam suatu setting komunikasi, yang dihasilkan oleh individu dan penggunaan lingkungan oleh individu, yang mempunyai nilai pesan potensial bagi pengirim atau penerima; jadi definisi ini mencakup perilaku yang disengaja juga tidak disengaja sebagai bagian dari peristiwa komunikasi secara keseluruhan; kita mengirim banyak pesan nonverbal tanpamenyadari bahwa pesan-pesan tersebut bermakna pada orang lain.

Dalam proses non verbal yang relevan dengan komunikasi antar budya terdapat tiga aspek yaitu; perilaku non verbal yang berfungsi sebagai bahasa diam, konsep waktu dan penggunaan dan pengaturan ruang.

Sebenarnya sangat banyak aktivitas yang merupakan perilaku non verbal ini, akan tetapi yang berhubungan dengan komunikasi antar budaya ini biasanya adalah sentuhan. Sentuhan sebagai bentuk komunikasi dapat menunjukkan bagaimana komunikasi non verbal merupakan suatu produk budaya. Di Jerman kaum wanita seperti juga kaum pria biasa berjabatan tangan dalam pergaulan sosial; di Amerika Serikat kaum wanita jarang berjabatan tangan. Di Muangthai, orang-orang tidak bersentuhan (berpegangan tangan dengan lawan jenis) di tempat umum, dan memegang kepala seseorang merupakan suatu pelanggaran sosial.

Suatu contoh lain adalah kontak mata. Di Amerika Serikat orang dianjurkan untuk mengadakan kontak mata ketika berkomunikasi. Di Jepang kontak mata seringkali tidak penting. Dan beberapa suku Indian Amrika mengajari anak-anak mereka bahwa kontak mata dengan orang yang lebih tua merupakan tanda kekurangsopanan. Seorang guru sekolah kulit putih di suatu pemukiman suku Indian tidak menyadari hal ini dan ia mengira bahwa murid-muridnya tidak berminat bersekolah karena murid-muridnya tersebut tidak pernah melihat kepadanya.

Sebagai suatau komponen budaya, ekspresi non verbal mempunyai banyak persamaan dengan bahasa. Keduanya merupakan sistem penyandian yang dipelajari dan diwariskan sebagai bagian pengalaman budaya. Lambang-lambang non verbal dan respon-respon yang ditimbulkan lambang-lambang tersebut merupakan bagian dari pengalaman budaya – apa yang diwariskan dari suatu generasi ke generasi lainnya. Setiap lambang memiliki makna karena orang mempunyai pengalaman lalu tentang lambang tersebut. Budaya mempengaruhi dan mengarahkan pengalaman-pengalaman itu, dan oleh karenanya budaya juga mempengaruhi dan mengarahkan kita: bagaiman kita mengirim, menerima, dan merspon lambang-lambang non verbal tersebut.

Konsep Waktu

Konsep waktu suatu budaya merupakan filsafatnya tentang masa lalu, masa sekarang, masa depan, dan pentingnya atau kurang pentingnya waktu. Kebanyakan budaya Barat memandang waktu sebagai langsung dan berhubungan dengan ruang dan tempat. Kita terikat oleh waktu dan sadar akan adanya masa lalu, masa sekarang, dan masa yang akan datang. Sebaliknya, sukuIndian Hopi tidak begitu memperhatikan waktu. Mereka percaya bahwa setiap hal – apakah itu manusia, tumbuhan, atau binatang memiliki sistem waktunya sendiri-sendiri.

Waktu merupakan komponen budaya yang penting. Terdapat banayak perbedaan mengenai konsep ini antara budaya yang satu dengan budaya yang lainnya dan perbedaan-perbedaan tersebut mempengaruhi komunikasi.

Penggunaan Ruang

Cara orang menggunakan ruang sebagai bagian dalam komunikasi antar-personal disebut proksemika (proxemics). Proksemika tidak hanya meliputi jarak antara orang-orang yang terlibat dalam percakapan, tetapi juga orientasi fisik mereka. Kita mungkin tahu bahwa orang-orang Arab dan orang-orang Amerika Latin cenderung berinteraksi lebih dekat kepada sesamanya daripada orang-orang Amerika Utara. Penting disadari bahwa orang-orang dari budaya yang berbeda mempunyai cara-cara yang berbeda pula dalam menjaga jarak ketika bergaul dengan sesamanya. Bila kita berbicara dengan orang berbeda budaya, kita harus dapat memperkirakan pelanggaran-pelanggaran apa yang bakal terjadi, menghindari pelanggaran-pelanggaran tersebut, dan meneruskan interaksi kita tanpa memperlihatkan reaksi permusuhan. Kita mungkin mengalami perasaan-perasaan yang sulit kita kontrol; kita mungkin menyangka bahwa orang lain tidak tahu adat, agresif, atau menunjukkan nafsu seks ketika orang itu berada pada jarak yang dekat dengan kita, padahal sebenarnya tindakannya itu merupakan perwujudan hasil belajarnya tentang bagaimana menggunakan ruang, yang tentu saja dipengaruhi oleh budayanya.

Kita juga cenderung menentukan hierarki sosial dengan mengatur ruang. Duduk di belakang meja sambil berbicara dengan seseorang yang sedang berdiri biasanya merupakan tanda hubungan atasan-bawahan, dan orang yang duduk itulah atasannya. Perilaku yang serupa juga dapat digunakan untuk menunjukkan ketidaksetujuan, kekurangajaran, atau penghinaan, bila orang melanggar norma-norma budaya. Kesalahpahaman mudah terjadi dalam peristiwa-peristiwa antarbudaya ketika dua orang, masing-masing berperilaku sesuai dengan budayanya masing-masing, tak memenuhi harapan pihak lainnya. Bila kita tetap duduk sedangkan kita diharapkan berdiri, kita dikira orang melanggar norma budaya dan menghina pribumi atau tamu, padahal kita tidak menyadari hal tersebut.

Menurut Tubbs and Moss (1996), sistem komunikasi non verbal berbeda dari satu budaya ke budaya lain seperti juga sistem verbal. Di beberapa negara, suatu anggukan kepala berarti ”tidak”, di sebagian negara lainnya, anggukan kepala sekedar menunjukkan bahwa orang mengerti pertanyaan yang diajukan. Petunjuk-petunjuk non verbal ini akan lebih rumit lagi bila beberapa budaya memperlakukan faktor-faktor non verbal seperti penggunaan waktu dan ruang secara berbeda.

Isyarat-isyarat vokal seperti volume suara digunakan secara berbeda dalam budaya-budaya yang berbeda, begitu juga dengan ekspresi emosi. Misalnya, orang Italia dan orang Inggris lebih terbiasa mengekspresikan kesusahan dan kemarahan daripada orang Jepang, karena bagi orang Jepang merupakan suatu kewajiban sosial untuk tampak bahagia dan tidak membebani teman-teman mereka dengan kesusahan. Menurut Gudykunst dan Ting Tommey (1988), dalam beberapa budaya penampilan emosi terbatas pada emosi-emosi yang ”positif” dan tidak mengganggu harmoni kelompok.

Liliweri (2003) mengatakan bahwa ketika berhubungan antarpribadi maka ada beberapa faktor dari pesan non verbal yang mempengaruhi komunikasi antarbudaya. Ada beberapa bentuk perilaku non verbal yakni: (1) kinesik; (2) okulesik, dan (3) haptiks; (4) proksemik; dan (5) kronemik.

1. Kinesik, adalah studi yang berkaitan dengan bahsa tubuh, yang terdiri dari posisi tubuh, orientasi tubuh, tampilan wajah, gambarang tubuh, dll. Tampaknya ada perbedaan anatara arti dan makna dari gerakan-gerakan tubuh atau anggota tubuh yang ditampilkan tersebut.

2. Okulesik, adalah studi tentang gerakan mata dan posisi mata. Ada perbedaan makna yang ditampilkan alis mata diantara manusia. Setiap variasi gerakan mata atau posisi mata menggambarkan satu makna tertentu, seperti kasih sayng, marah, dll. Orang Amerika Utara tidak membenarkan seorang melihat wajah mereka kalau mereka sedang berbicara. Sebaliknya, orang Kamboja yakin bahwa setiap pertemuan didahului oleh pandangan mata pertama, namun melihat seorang adalah sesuatu yang bersifat privacy sehingga tidak diperkenankan memandang orang lain dengan penuh nafsu.

3. Haptik, adalah studi tentang perabaan atau memperkenankan sejauh mana seseorang memegang dan merangkul orang lain. Banyak orang Amerika Utara merasa tidak nyaman ketika seseorang dari kebudayaan lain memegang tangan mereka dengan ramah, menepuk belakang dan lain-lain. Ini menunjukkan – derajat keintiman: fungsional/profesional, sosial dan sopan santun, ramah tamah dan baik budi, cinta dan keintiman, dan daya tarik seksual.

4. Proksemik, studi tentang hubungan antar ruang, antar jarak, dan waktu berkomunikasi, sebagaimana dikategorikan oleh Hall pada tahun 1973, kecenderungan manusia menunjukkan bahwa waktu orang berkomunikasi itu harus ada jarak antarpribadi, terlalu dekat atau terlalu jauh. Makin dekat artinya makin akrab, makin jauh arinya makin kurang akrab.

5. Kronemik, adalah studi tentang konsep waktu, sama seperti pesan non verbal yang lain maka konsep tentang waktu yang menganggap kalu suatu kebudayaan taat pada waktu maka kebudayaan itu tinggi atau peradaban maju. Ukuran tentang waktu atau ketaatan pada waktukemudian menghailkan pengertian tentang orang malas, malas bertnggungjawab, orang yang tidak pernah patuh pada waktu.

6. Tampilan, apperance – cara bagaimana seorang menampilakn diri telah cukup menunjukkan atau berkolerasi sangat tinggi dengan evaluasi tentang pribadi. Termasuk di dalamnya tampilan biologis misalnya warna kulit, warna dan pandangan mata, tekstur dan warna rambut, serta struktur tubuh. Ada stereotip yang berlebihan terhadap perilaku seorang dengan tampilan biologis. Model pakaian juga mempengaruhi evaluasi kita pada orang lain. Dalam sebagian masyarakat barat, jas dan pakaian formal merefleksikan profesionalisme, karen itu tidak terlihat dalam semua masyarakat.

7. Posture, adalah tampilan tubuh waktu sedang berdiri dan duduk. Cara bagaimana orang itu duduk dan berdiri dapat diinterpretasi bersama dalam konteks antarbudaya. Kalau orang Jawa dan orang Timor (Dawan) merasa tidak bebas jika berdiri tegak di depan yang orang yang lebih tua sehingga harus merunduk hormat, sebaliknya duduk bersila berhadapan dengan orang yang lebih tua merupakan sikap yang sopan.

8. Pesan-pesan paralinguistik antarpribadi adalah pesan komunikasi yang merupakan gabungan anatara perilaku verbal dan non verbal. Paralinguistik terdiri dari satu unit suara, atau gerakan yang menampilkan maksud tertentu dengan makna tertentu. Paralinguistik juga berperan besar dalam komunikasi antarbudaya. Contoh, orang Amerika yang berbicara terlalu keras acapkali oleh orang eropa dipandang terlalu agresif atau tanda tidak bersahabat. Orang Inggris yang berbicara pelan dan hati-hati dipahami sebagai sekretif bagi Amerika.

9. Simbolisme dan komunikasi non verbal yang pasif – beberapa di antarnya adalah simbolisme warna dan nomor. Di Amerika Utara, AS dan Canada, warna merah menunjukkan peringatan, daya tarik seks, berduka, merangsang. Sedangkan warna kuning menggambarkan kesenangan dan kegembiraan. Warna biru berarti adil, warna bisnis sehingga dipakai di perkantoran. Warna hitam menunjukkan kematian, kesengsaraan, dosa, kegagalan dalam bisnis dan seksi. Sebaliknya warna merah di Brazil adalah yang menunjukkan jarak penglihatan, hitam melambangkan kecanggihan, kewenangan, agama dan formalitas.

Dilihat dari fungsinya,perilaku nonverbal mempunyai beberapa fungsi.Paul Ekman dalam Mulyana (2007) menyebutkan lima fungsi pesan nonverbal,seperti yang dapat dilukiskan dengan perilaku mata,yakni sebagai :

- Emblem. Gerakan mata tertentu merupakan symbol yang memiliki kesetaraan dengan simbol verbal.Kedipan dapat mengatakan,”Saya tidak sungguh-sungguh.”illustrator.Pandangan ke bawah dapat menunjukkan depresi atau kesedihan.

- Regulator. Kontak mata berarti saluran percakapan terbuka.Memalingkan muka menandakan ketidaksediaan berkomunikasi.Penyesuai.Kedipan mata yang cepat meningkat ketika orang berada dalam tekanan.Itu merupakan respon tidak disadari yang merupakan upaya tubuh untuk mengurangikecemasan.

- Affect Display. Pembesaran manik mata (pupil dilation) menunjukkan peningkatan emosi.Isyarat wajah lainnya menunjukkan perasaan takut ,terkejut,atau senang.

Lebih lanjut lagi Mulyana (2007) merumuskan,dalam hubungannya dengan perilaku verbal mempunyai fungsi-fungsi sebagai berikut.

- Perilaku nonverbal dapat mengulagi perilaku verbal,misalnya anda menganggukan kepala ketika anda mengatakan “ya,”atau menggelengkan kepala ketika mengatakan “tidak,” atau menunjukan arah (dengan telunjuk) ke mana seseorang harus pergi untuk menemukan WC.

- Memperteguh, menekankan atau melengkapi perilaku verbal.Misalnya Anda melambaikan tangan seraya mengucapkan “Selamat Jalan,” “Sampai jumpa lagi,ya,” atau “Bye bye,”;atau anda menggunakan gerakan tangan ,nada suara yang ninggi,atau suara yang lambat ketika Anda berpidato hadapan khalayak.Isyarat nonverbal demikian itulah yang disebut affect display.

- Perilaku nonverbal dapat menggantikan perilaku verbal,jadi berdiri sendiri,misalnya Anda menggoyangkan tangan Anda dengan telapak tangan mengarah ke depan (sebagai pengganti: kata “Tidak”)ketila seorang pengamen mendatangi mobil tau Anda menunjukkan letak ruang dekan dengan jari tangan tanpa mengucapkan sepatah kata pun,kepada seorang mahasiswa baru.

- Perilaku nonverbal dapat meregulasi perilaku verbal.Misalnya Anda sebagai mahasiswa mengenakan jaket atau membereskan: buku-buku,atau melihat jam tangan Anda menjelang kuliah berakhir,sehingga dosen segara menutup kuliahnya.

- Perilaku nonverbal dapat membantah atau bertentangan dengan perilaku verbal.Misalnya,seorang suami mengatakan “Bagus! Bagus!” ketika diminta komentar oleh istrinya mengenai gaun yang dibelinya,seraya terus membaca surat: kabar atau menonton televisi;

Jika terdapat pertentangan antara pesan verbal dan pesan nonverbal,kita biasanya lebih mempercayai pesan nonverbal,yang menunjukkan pesan sebenarnya,karena pesan nonverbal lebih sulit dikendalikan daripada pesan verbal.Kita dapat mengendalikan sedikit perilaku nonverbal; namun kebanyakan perilaku nonverbal di luar kesadaran kita.Kita dapat memutuskan dengan siapa dan kapan berbicara serta topik-topik apa yang akan kita bicarakan,tetapi kita sulit mengendalikan ekspresi wajah senang, malu, ngambek, cuek; anggukkan atau gelengan kepala; kaki yang mengetuk-ngetuk lantai; dan sebagainya.Anda sulit menyangkal komentar seorang pendengar bahwa Anda sangat gugup ketika Anda berpidato, karena tangan Anda terlihat gemetar dan wajah Anda berkeringat dalam pidato Anda.

Klasifikasi Pesan Nonverbal

Menurut Ray L. Birdwhistell, 65% dari komunikasi tatap-muka adalah nonverbal,sementara menurut Albert Mehrabian, 93% dari semua makna sosial dalam komunikasi tatap-muka diperoleh dari isyarat—isyarat nonverbal (Mulyana 2007).Dalam pandangan Birdwhistell,kita sebenarnya mampu mengucapkan ribuan suara vokal,dan wajah kita dapat menciptakan 250.000 ekspresi yang berbeda.

Perilaku nonverbal kita terima sebagai suatu “paket” siap pakai dari lingkungan sosial kita, khususnya orangtua.Kita tidak perna mempersoalkan mengapa kita harus memberi isyarat begini untukmengatakan hal lain.Sebagaimana lambing verbal,asal-usul isyarat nonverbal sulit dilacak meskipun adakalanya kita memperoleh informasi terbatas mengenai hal itu,berdasarkan kepercayaan agama,sejarah,atau cerita rakyat (folklore).

Kita dapat mengklasifikasikan pesan-pesan nonverbal ini dengan berbagai cara.Jurgen Ruesch mengklasifikasikan isyarat nonverbal menjadi tiga bagian.Pertama,bahasa tanda (sign language)-acungan jempol untuk numpang mobil secara gratis;bahasa isyarat tuna rungu ;kedua,,bahasa tindakan (action language)-semua gerakan tubuh yang tidak digunakan secara eksklusif untuk memberikan sinyal,misalnya,berjalan;dan ketiga,bahasa objek (object language)-pertunjukan benda,pakaian,dan lambang nonverbal bersifat publik lainnya seperti ukuran ruangan,bendera,gambar(lukisan),musik (misalnya marching band),dan sebagainya,baik secara sengaja ataupun tidak.

Secara garis besar Larry A.Samovar dan Richard E. Porter (1991)membagi pesan-pesan nonverbal menjadi dua kategori besar yakni,:pertama,ekspresi wajah,kontak mata,bau-bauan dan parabahasa;kedua,ruang,waktu,dan diam.

Meskipun tidak menggunakan pengkategorian di atas,kita akan membahas berbagai jenis pesan nonverbal yang kita anggap penting,mulai dari pesan nonverbal yang bersifat perilaku hingga pesan noverbal yang terdapat dalam lingkungan kita.

Isyarat Tangan

Kita sering menyertai ucapan kiita dengan isyarat tangan.Perhatikanlah orang yang sedang menelepon.Meskipun lawan bicaratidak terlihat,is menggerak-garakan tangannya.Isyarat tangan atau “berbicara dengan tangan” termasuk apa yang disebut emblem,yang dipelajari,yamg punya makna dalam suatu budaya atau subkultur.Meskipun isyarat tangan yang digunakan sama,maknanya boleh jadi berbeda;atau,isyarat fisiknya berbeda,namun maksudnya sama.

Untuk meunjuk diri-sendiri (“Saya!” atau “Saya”?),seperti juga orang Kenya dan orang Korea Selatan,orang Indonesia menunjuk dadanya dengan telapak tangannya atau telunjuknya,sedangkan orang Jepang menunjuk hidungnya dengan telunjuk.

Penggunaan isyarat tangan dan maknanya jelas berlainan dari budaya ke budaya.Meskipun di beberapa Negara.telunjuk digunakan untuk menunjukkan sesuatu,hal itu tidak sopan di Indonesia,seperti juga dibanyak negeri Timur Tengah dan Timur Jauh.Tentu saja selalu ada kekecualian.Orang Batak,seperti orang Amerika,biasa menunjuk dengan telunjuk tanpa bermaksud kasar kepada orang yang dihadapinya.Begitu juga orang Betawi,yang tidak jarang menunjuk dengan memonyongkan mulut,sambil berucap,”Ke sonono!”Beberapa suku Afrika yang menunjuk dengan mencibirkan bibir bawah menganggap cara menunjuk Amerika sebagai kasar.

Gerakan kepala

Di beberapa Negara,anggukan kepala malah berarti tidak seperti di Bulgaria,sementara untuk isyarat ya” di Negara tesebut adalah menggelengkan kepala.Orang Inggris seperti orang Indonesia menganggukan kepala untuk menyatakan bahwa mereka mendengar,dan tidak berarti menyetujui.Di Uni Emirat Arab,menggelengkan kepala itu juga berarti “ya”.maka seorang TKW Indonesia bernama Kartini pun dituduh telah melakukan perzinahan dengan seorang pekerja asal India dan dinyatakan bersalah karena ia menggelengkan kepalanya ketika ia ditanya oleh jaksa dan hakim.Dalam sidang itu Kartini tidak didampingi penterjemah,sementara kemampuan berbahasa Arabnya pu ala kadarnya.Semua pertanyaan dijawabnya dengan gelengan kepala yang berarti “tidak”,padahal di Negara itu gelengan kepala berarti “ya”.

Di banyak Negara,orang yang duduk sambil menegakkan kepala dihadapan orang yang berbicara berarti memperhatikan si pembicara.Di Australia,pembicara akan menyangkan Anda kecapekan atau mengantuk bila Anda memejamkan mata Anda.Akan tetapi,orang Jepang yang tampak tertidur –mata terpejam dan kepala menunduk-ketila pebisnis asing sedang melakukan presentasi,sebenarnya sedang menyimak presentasi tersebut dengan sungguh-sungguh.

Postur Tubuh dan Posisi kaki

Postur tubuh sering bersifat simbolik.Beberapa postur tubuh tertentu diasosiasikan dengan status sosial dan agama tertentu.Selama berabad-abad rakyat tidak boleh berdiri atau duduk lebih tinggi daripada (kaki) raja atau kaisarnya.Mereka harus berlutut atau bahkan bersujud untuk menyembahnya.Penaganut Shinto di Jepang berlutut di depan altar di luar rumah sebelum mereka membuat sajian dan berdoa.Paus Yohanes Paulus II yang memimpin umat katolik sedunia lazim bersujud mencium bumi begitu ia turun dari pesawat dalam lawatan internasionalnya.Orang Islam secara rutin menampilkan perilaku serupa,sebagai bagian dari salat mereka,namun sering di dalam ruangan daripada di luar ruangan.

Cara berdiri atau duduk juga sering dimaknai secara berbeda di tiap Negara.tamu harus menundukkan kepala ketika bertemu dengan Dalai Lama di Tibet,jangan menatap matanya,jangan menyentuhnya,dan baru bicara setelah Dalai Lama bicara.

Status seseorang juga dapat terlihat lewat cara meletakkan tangannya ketika berdiri dan berbicara dengan orang lain.Di Negara kita,orang yang berbicara dengan merapatkan kedua tangannya (telapak tangan menghadap ke dalam) dan meletakkannya di depan selangkangannya hampir bisa dipastikan adalah orang yang jabatannya lebih rendah daripada orang yang berdiri dengan meletakkankedua tangannya di samping atau di belakang punggungnya.Perhatikanlah situasi semacam ini ketika para pejabat Negara berkumpul di istana,sehabis pelantikan pejabat tinggi misalnya.

Ekspresi Wajah dan Tatapan Mata

Para dramawan, pelatih tari Bali, dan pembuat topeng di negara kita paham benar mengenai perubahan suasana hati dan makna yang terkandung dalam ekspresi wajah, seperti juga pengarah, pemain, dan penari Kabuki di Jepang. Masuk akal bila banyak orang menganggap perilaku nonverbal yang paling banyak “berbicara” adalah ekspresi wajah, khususnya pandangan mata, meskipun mulut tidak berkata-kata.

Anda bisa membuktikan sendiri bahwa ekspresi wajah, khususnya mata, paling ekspresif. Cobalah anda saling memandang dengan orang lain, baik dengan pria atau dengan wanita. Anda pasti takkan kuat memandangnya terus-menerus. Anda kemungkinan akan tersenyum atau tertawa, atau melengos. Perilaku mata sedemikian penting dalam budaya Korea sehingga orang Korea mempunyai kata khusus (nuichee) untuk menekankan pentingnya perilaku itu. Orang Korea percaya bahwa mata adalah jawaban “sebenarnya” mengenai apa yang dirasakan dan dipikirkan seseorang.

Kontak mata punya dua fungsi dalam komunikasi antarpribadi. Pertama, fungsi pengatur, untuk memberi tahu orang lain apakah anda akan melakukan hubungan dengan orang itu atau menghindarinya. Kedua, fungsi ekspresif, memberi tahu orang lain bagaimana perasaan anda terhadapnya. Pria menggunakan lebih banyak kontak mata dengan orang mereka sukai, meskipun menurut penelitian, perilaku ini kurang ajeg dikalangan wanita.

Ekspresi wajah merupakan perilaku nonverbal utama yang mengekpresikan keadaan emosional seseorang. Sebagian pakar mengakui, terdapat beberapa keadaan emosional yang dikomunikasikan oleh ekspresi wajah yang tampaknya dipahami secara universal : kebahagiaan, kesedihan, ketakutan, keterkejutan, kemarahan, kejijikan, dan minat. Ekspresi-ekspresi wajah tersebut dianggap “murni”, sedangkan keadaan emosional lainnya (misalnya : malu, rasa berdosa, bingung, puas) dianggap “campuran”, yang umumnya lebih bergantung pada interpretasi. Sedikit kekecualian atau variasi memang harus diantisipasi. Misalnya –seperti lazimnya- orang Amerika menunjukkan keterkejutan dengan mulut ternganga dan alis yang naik, sedangkan orang-orang Eskimo, Tlingit, dan Brazil menunjukkan hal yang sama dengan menepuk pinggul mereka.

Secara umum dapat dikatakan bahwa makna ekspresi wajah dan pandangan mata tidaklah universal, melainkan sangat dipengaruhi oleh budaya. Lelaki dan perempuan mempunyai cara berbeda dalam hal ini. Perempuan cenderung lebih banyak senyum daripada lelaki, tetapi senyuman mereka sulit ditafsirkan. Dalam suatu budaya pun terdapat kelompok-kelompok yang menggunakan ekspresi wajah secara berbeda dengan budaya dominan. Pearson, West, dan Turner melaporkan bahwa dibandingkan dengan pria, wanita menggunakan lebih banyak ekspresi wajah dan lebih ekspresif, lebih cenderung membalas senyum dan lebih tertarik kepada orang lain yang tersenyum. Ekspresi wajah boleh sama, namun maknanya mungkin berbeda.

Sentuhan

Sentuhan, adalah perilaku nonverbal yang multimakna, dapat menggantikan seribu kata. Kenyataannya sentuhan ini bisa merupakan tamparan, pukulan, cubitan, senggolan, tepukan, belaian, pelukan, pegangan (jabatan tangan), rabaan hingga sentuhan lembut sekilas. Sentuhan kategori terakhirlah yang sering diasosiasikan dengan sentuhan. Konon, menurut orang muda, seseorang dapat merasa seperti terkena strum ketika disentuh oleh lawan jenisnya yang disenanginya. “And when I touch you I feel happy inside” kata John Lennon dan Paul McCartney. Itu sebabnya Islam punya aturan ketat mengenai sentuh-menyentuh di antara lelaki dan perempuan untuk menghindari konsekuensinya yang menjurus pada perbuatan negatif.

Menurut Heslin, terdapat lima kategori sentuhan, yang merupakan suatu rentang dari yang sangat impersonal hingga yang sangat personal. Kategori-kategori tersebut adalah sebagai berikut.

  • Fungsional-profesional. Di sini sentuhan bersifat “dingin” dan berorientasi-bisnis, misalnya pelayan took membantu pelanggan memilih pakaian.
  • Sosial-sopan. Perilaku dalam situasi ini membangun dan memperteguh pengharapan, aturan dan praktik sosial yang berlaku, misalnya berjabatan tangan.
  • Persahabatan-kehangatan. Kategori ini meliputi setiap sentuhan yang menandakan afeksi atau hubungan yang akrab, misalnya dua orang yang saling merangkul setelah mereka lama berpisah.
  • Cinta-keintiman. Kategori ini merujuk pada sentuhan yang menyatakan keterikatan emosional atau ketertarikan, misalnya mencium pipi orangtua dengan lembut; orang yang sepenuhnya memeluk orang lain; dua orang yang “bermain kaki” di bawah meja; orang Eskimo yang saling menggosokkan hidung.
  • Rangsangan seksual. Kategori ini berkaitan erat dengan kategori sebelumnya, hanya saja motifnya bersifat seksual. Rangsangan seksual tidak otomatis bermakna cinta atau keintiman.

Parabahasa

Parabahasa, atau vokalika (vocalics), merujuk pada aspek-aspek suara selain ucapan yang dapat dipahami, misalnya kecepatan berbicara, nada (tinggi atau rendah), intensitas (volume) suara, intonasi, kualitas vokal (kejelasan), warna suara, dialek, suara serak, suara sengau, suara terputus-putus, suara yang gemetar, suitan, siulan, tawa, erangan, tangis, gerutuan, gumaman, desahan, dan sebagainya. Setiap karakteristik suara ini mengkomunikasikan emosi dan pikiran kita. Suara yang terengah-engah menandakan kelemahan, sedangkan ucapan yang terlalu cepat menandakan ketegangan, kemarahan, atau ketakutan. Riset menunjukkan bahwa pendengar mempersepsi kepribadian komunikator lewat suara. Tidak berarti bahwa persepsi mereka akurat; alih-alih mereka memperoleh persepsi tersebut berdasarkan stereotip yang telah mereka kembangkan. Wanita dengan suara basah (misalnya sebagai penyiar radio) dipersepsi lebih feminim dan lebih cantik daripada wanita tanpa suara basah. Sedangkan pria dengan nada suara tinggi atau melengking dianggap kewanita-wanitaan. Padahal boleh jadi wanita bersuara basah berlebihan berat badan dan pria bersuara melengking adalah petinju kelas berat. Salah satu kelebihan lagu-lagu kelompok Peterpan yang populer pada dekade pertama abad ke-21 di Indonesia adalah karena suara penyanyinya, Ariel, dianggap seksi, terutama oleh kaum wanita penggemarnya.

Penampilan fisik

Perhatian pada penampilan fisik tampaknya universal. Sekitar 40.000 tahun yang lalu orang-orang purba menggunakan tulang untuk dijadikan kalung dan hiasan tubuh lainnya. Bukti-bukti arkeologis menunjukkan bahwa sejak saat itu orang-orang sangat peduli dengan tubuh mereka. Mereka mengecatnya, mengikatkan sesuatu padanya, dan merajahnya untuk terlihat cantik.

Setiap orang punya persepsi mengenai penampilan fisik seseorang, baik itu busananya (model, kualitas bahan, warna), dan juga ornament lain yang dipakainya, seperti kaca mata, sepatu, tas, jam tangan, kalung, gelang, cincin, anting-anting, dan sebagainya. Seringkali orang memberi makna tertentu pada karakteristik fisik orang yang bersangkutan, seperti bentuk tubuh, warna kulit, model rambut, dan sebagainya. Di Amerika orang menghargai wanita yang tinggi dan ramping. Di Jepang wanita yang kecil justru paling menarik. Tetapi di Cina secara tradisional kecantikan wanita justru diasosiasikan dengan gaya rambut sederhana (dengan satu atau dua kepang) yang tidak berusaha menarik perhatian dengan selendang berwarna-warni, perhiasan atau make-up.

Busana

Nilai-nilai agama, kebiasaan, tuntutan lingkungan (tertulis atau tidak), nilai kenyamanan, dan tujuan pencitraan, semua itu mempengaruhi cara kita berdandan. Bangsa-bangsa yang mengalami empat musim yang berbeda menandai perubahan musim itu dengan perubahan cara mereka berpakaian. Pada musim dingin dengan udara di bawah 0 derajat Celcius misalnya, tidak ada orang yang hanya mengenakan T-shirt dan celana pendek di luar rumah.

Banyak subkultur dan komunitas mengenakan busana yang khas sebagai simbol keanggotaan mereka dalam kelompok tersebut. Orang mengenakan jubah atau jilbab sebagai tanda keagamaan dan keyakinan mereka. Dibanyak negara seperti Jepang dan Meksiko, juga di Indonesia, pakaian seragam amat populer. Polisi, tentara dan anak sekolah senang berpakaian seragam untuk menunjukkan afiliasi kelompok.

Tanpa memperhatikan dengan sungguh-sungguh bagaimana budaya mempengaruhi komunikasi, termasuk komunikasi nonverbal dan pemaknaan terhadap pesan nonverbal tersebut, kita bias gagal berkomunikasi dengan orang lain. Kita cenderung menganggap budaya kita, dan bahasa nonverbal kita sebagai standar dalam menilai bahasa nonverbal orang dari budaya lain. Bila kita langsung berkesimpulan tentang orang lain berdasarkan perilaku nonverbalnya yang berbeda itu, maka kita terjebak dalam etnosentrisme (menganggap budaya sendiri sebagai standar dalam mengukur budaya orang lain).

4 komentar:

kaloo seumpama bentuk rumahh,, atau banyaknya rumah yang menghadap ke arah sama karena adanya mitos ituu termasuk komunikasi nonverbal bukann??? :))

"Dalam berbisnis, umumnya surat bisnis Amerika, menyatakan maksudnya dalam empat paragraph saja."
Bisa disebutkan contoh suratnya seperti apa?

daftar pustaka dong..
biar kita belajar mencantumkan bagaimana menghargai sumber pemikiran dan pustaka yang jelas dan bisa dipertanggung jawabkan..
thx

Post a Comment

Bikin Website GRATIS.. Kalo mau nanya-nanya email ke gw aja, GRATIS kok..

Free Website Hosting

Apakah blog ini bermanfaat bagi anda ?

Blog ini dilindungi oleh hak cipta. Cantumkan link blog ini apabila menyalin sebagian/seluruh data. Powered by Blogger.