Sunday, February 13, 2011

Efek Kognitif Media Massa

0

I. Pengertian Informasi dan Citra
Informasi adalah segala sesuatu “yang mengurangi ketidakpastian atau mengurangi jumlah kemungkinan alternatif dalam situasi”.
Misalnya, seorang insinyur genetic datang dan memberitahukan bahwa mahluk yang ada di depan Anda adalah “chimera”, hasil perkawinan gen manusia dengan gen monyet. Ketidakpastian Anda berkurang, dan alternative tindakan yang akan Anda lakukan juga berkurang. Apabila Anda bertanya lebih jauh, mahluk itu ternyata jinak dan cerdas, maka makin sedikit alternatif tindakan Anda. Sekarang realitas di depan Anda tidak lagi realitas tak berstruktur. Informasi yang Anda peroleh telah menstruktur dan mengorganissi realitas.
Realitas itu sekarang tampak sebagai gambaran yang mempunyai makna. Gambaran seperti itu disebut citra.
Citra menunjukkan keseluruhan informasi tentang dunia ini yang telah diolah, diorganisasikan, dan disimpan individu.

Citra adalah peta kita tentang dunia. Tanpa citra kita akan selalu berada dalam suasana yang tidak pasti. Citra adalah gambaran tentang realitas dan tidak harus selalu sesuai dengan realitas. Citra adalah dunia menurut persepsi kita.

Dalam kaitannya dengan komunikasi massa, komunikasi massa tidak secara langsung menimbulkan perilaku tertentu. Komunikasi massa, khususnya media massa, cenderung mempengaruhi cara kita mengorganisasikan citra kita tentang lingkungan, dan citra inilah yang mempengaruhi cara kita berperilaku.
Contoh :
- Media massa seperti televisi yang seringkali menayangkan cerita tentang Jakarta lewat sinetron dengan menggambarkan hotel, mall, restoran mahal, dan kehidupan glamour lainnya, akan membentuk citra di kepala orang-orang pedesaan, bahwa di Jakarta itu ”hidup enak” dan nikmat.
- Media cetak yang seringkali memberitakan peristiwa kriminalitas secara vulgar yang terjadi di Jakarta, membuat orang-orang menganggap Jakarta adalah kota yang tidak aman. Akibatnya, orang-orang tidak berani pulang malam, atau tidak berani pergi sendirian di malam hari.

II. Pembentukan dan Perubahan Citra
Seperti telah dijelaskan sebelumnya, citra terbentuk berdasarkan informasi yang kita terima. Media massa bekerja untuk menyampaikan informasi.
Buat khalayak, informasi itu dapat membentuk, mempertahankan atau meredefinisikan citra.

Menurut McLuhan, media massa adalah perpanjangan alat indera kita.
Dengan media massa kita memperoleh informasi tentang benda, orang , atau tempat yang tidak kita alami secara langsung. Media massa datang untuk menyampaikan informasi tentang lingkungan sosial politik; televisi menjadi jendela kecil untuk menyaksikan berbagai peristiwa yang jauh dari jangkauan alat indera kita.
Surat kabar menajdi teropong kecil untuk melihat gejala-gejala yang terjadi di seluruh dunia, buku kadang-kadang bisa menjadi kapsul yang membawa kita ke masa lalu, masa kini, dan masa yang akan datang., film menyajikan pengalaman imajiner yang melintas ruang dan waktu.

Realitas yang disampaikan media adalah realitas yang sudah diseleksi, yang disebut realitas tangan kedua (second hand reality). Televisi memilih tokoh-tokoh tertentu untuk ditampilkan dan mengenyampingkan tokoh-tokoh lain yang lain. Begitu juga surat kabar, melalui proses yang disebut “gatekeeping” menapis berbagai berita dan memuat berita tentang “darah dan dada (blood and breast) daripada tentang teladan dan kesuksesan.
Karena khalayak tidak dapat dan tidak sempat mengecek apa yang disampaikan oleh media massa, maka khalayak cenderung memperoleh informasi itu semata-mata berdasarkan apa yang dilaporkan oleh media massa.

Jadi, pada akhirnya kita membentuk citra kita tentang lingkungan sosial kita berdasarkan realitas kedua yang ditampilkan media massa. Karena televisi sering menyajikan adegan kekerasan, penonton televisi cenderung memandang dunia lebih keras, lebih tidak aman, dan lebih mengerikan.

Menurut para ahli, penelitian berkenaan dengan persepsi penonton televisi tentang realitas sosial menemukan bahwa penonton televisi kelas berat cenderung memandang lebih banyak orang yang berbuat jahat, merasa bahwa berjalan sendirian berbahaya, dan lebih berpikir bahwa orang hanya memikirkan dirinya sendiri.
Jadi jelas bahwa citranya tentang dunia dipengaruhi oleh apa yang dilihatnya dalam televisi.
Hal yang sama berlaku pada surat kabar. Bila kita berlangganan surat kabar Lampu Merah, besar kemungkinan kita menduga dunia ini dipenuhi oleh pembunuhan, penjambretan, perkosaan, penganiayaan, dan pencurian.
Jadi jelaslah bahwa, baik surat kabar maupun televisi dapat menonjolkan situasi atau orang tertentu di atas situasi atau tokoh lain.

Berkaitan erat dengan penonjolan yang dilakukan oelh media massa, Lazarsfeld dan Merton menjelaskan fungsi media dalam memberikan status. Karena namanya, gambarnya, atau kegiatannya dimuat oleh media, maka orang, organisasi, atau lembaga mendadak mendapat reputasi yang tinggi. Dalam hal ini dikenal istilah ”names makes news”. Sebaliknya dalam kaitannya dengan citra yang ada sekarang adalah ’news makes name”. Artinya orang yang tak terkenal mendadak melejit namanya, karena ia diungkapkan secara besar-besaaran dalam media massa. Bahkan orang yang terkenal, perlahan-lahan akan dilupakan oleh orang, karena tidak pernah lagi diliput oleh media.

Karena media massa melaporkan dunia nyata secara selektif, sudah tentu media massa mempengaruhi pembentukan citra tentang lingkungan sosial yang timpang, bias, dan tidak cermat. Oleh karena itu, terjadilah apa yang disebut stereotype.
Stereotype adalah gambaran umum tentang individu, kelompok, profesi, atau masyarakat yang tidak berubah-ubah, bersifat klise, dasn seringkali timpang dan tidak benar.
Misalnya di Amerika Serikat, media massa memperlihatkan kelompok minoritas seringkali ditampilkan dalam stereotype yang merendahkan, orang Negro bodoh, malas, dan curang; orang Indian liar dan ganas; orang Asia umumnya pekerja kasar seperti pelayan, tukang cuci, dan tukang masak.
Contoh lain, dalam film-film Indonesia wanita sering ditampilkan sebagai mahluk cengeng, senang kemewahan, dan seringkali cerewet. Bila penampilan seperti iitu terus menerus, akan menciptakan stereotype pada diri khalayak komunikasi massa tentang orang atau lembaga.

Di sinilah bahaya pesan-pesan media massa. Itulah sebabnya ada orang-orang yang memandang komunikasi massa sebagai ancaman terhadap nilai dan rasionalitas manusia.
Menurut mereka, media massa menimbulkan depersonalisasi dan dehumanisasi manusia. Media massa bukan saja menyajikan realitas kedua, tetapi karena distorsi, media massa juga menipu manusia dan memberikan citra dunia yang keliru. Dalam hal ini C. Wright Mills menyebutnya sebagai ’pseudoworld” yang tidak serasi dengan perkembangan manusia.

Bagi kritikus sosial, media massa sering menampilkan lingkungan sosial yang tidak sebenarnya. Dengan cara itu, media massa membentuk citra khalayak nya ke arah yang dikehendaki oleh media tersebut.

Selain media berperan dalam membentuk citra, media massa juga berperan dalam mempertahankan citra yang sudah dimiliki oleh khalayaknya.
Teori ”reflective –projective theory” beranggapan bahwa media massa adalah cermin masyarakat yang mencerminkan suatu citra yang ambigu, artinya menimbulkan tafsir yang macam-macam., sehingga pada media massa setiap orang memproyeksikan atau melihat citranya. Media massa mencerminkan citra khalayak, dan khalayak memproyeksikan citranya pada penyajian media massa.
Misalnya, berita-berita luar negeri bagi orang Amerika, yang melaporkan bencna, kelaparan, dan kekacauan di negara dunia Ketiga akan memperkokoh citra mereka tentang negara terkebelakang yang belum tersentuh ’peradaban modern”. Pada gilirannya, film-film Amerika memperkokoh citra kita tentang Amerika sebagai penganut freesex, negara sebagai polisi dunia, dan pusat teknologi dunia.

Menurut Klapper, media bukan saja mempertahankan citra khalayak, media lebih cenderung menyokong status quo ketimbang perubahan. Roberts menganggap kecenderungan timbul karena 3 hal sebagai berikut :

1. Reporter dan editor memandang dan menafsirkan dunia sesuai dengan citranya tentang realitas seperti kepercayaan, nilai, dan norma;
Karena citra itu disesuaikan dengan norma yang ada, maka ia cenderung untuk melihat atau mengabaikan alternatif lain untuk mempersepsi dunia.
2. Wartawan selalu memberikan respon pada tekanan halus yang merupakan kebijaksanaan pemimpin media;
3. Media massa sendiri cenderung menghindari hal-hal yang bersifat kontroversial, karena kuatir hal-hal tersebut akan menurunkan jumlah khalayaknya.
Audience share dikuatirkan direbut oleh media saingan. Dengan begitu, yang paling aman ialah menampilkan dunia sedapat mungkin seperti yang diharapkan oleh kebanyakan khalayak.

Pengaruh media massa terasa lebih kuat lagi, karena pada masyarakat
modern orang memproleh informasi tentang dunia dari media massa. Pada saat yang sama, mereka sulit mengecek kebenaran yang disajikan media.
Contoh : pada awalnya Anda mengira bahwa di negara-negara Arab yang ada hanyalah kesalehan dn ketatan pada agama Islam, sampai suatu kali Anda membaca di Majalah TEMPO yang menceritakan suatu tempat maksiat di Negara Bahrain. Anda harus menyusun kembali citra Anda tentang negara-negara yang ada di jazirah Arab.
Contoh lain adalah, selama beberapa tahunorang Amerika memandang Richard Nixon sebagai seorang pemimpin negara yang baik, sampai 2 orang wartawan membongkar skandal Watergate. Mereka harfus mengubah citra mereka terhadap Nixon. Sampai kemudia mereka memprotes dan Nixon diganti.

Laporan investigative wartawan amat menentukan dalam mengubah citra kita tentang lingkungan. Perubahan citra tentu saja disusul dengan serangkaian perilaku. Meskipun laporan itu belum tentu benar, tetapi orang tidak mempunyai waktu untuk memeriksa kebenarannya, sedangkan tindakan tidak dapat ditangguhkan.
Misalnya, Kampung tertentu di daerah tertentu banyak didatangi pengunjung dari luar daerah, setelah diberitakan bahwa kampung itu berhasil dalam mengubah lingkungannya.

Media massa mengubah citra khalayak tentang lingkungannya. Media massa memberikan perincian, analisis, dan tinjauan mendalam tentang berbagai peristiwa. Penjelasan itu tidak mengubah, tetapi menjernihkan citra kita tentang
Lingkungan.
Oleh karena itu, karne penjelasan media massa tersebut, kita bahkan dapat menentukan mana isu yang penting dan mana yang tidak penting.

Efek Prososial Kognitif
Bila taelevisi, radio, dan surat kabar menyampaikan informasi atau nilai-nilai yang berguna, apakah khalayaknya akan memperoleh manfaat?
Yang dimaksud adalah, bila televisi menyebabkan Anda lebih mengerti tentang Bahasa Indonesia yang baik dan beanr, maka televisi telah menimbulkan efek prososial kognitif. Bila majalah menyajikan penderitaan rakyat miskin di pedesaan, dan hati Anda tergerak untuk menolong mereka , maka media massa telah menghasilkan efek prososial afektif. Bila surat kabar membuka dompet bencana alam, menghimbau Anda untuk menyumbang, lalu Anda mengirimkan sumbangan dalam bentuk uang ke sana, maka terajdilah efek prososial behavioral.
Contoh : Film televisi “Sesame Street”. Film ini dibuat dalam rangka mempersiapkan anak-anak prasekolah untuk mengembangkan ketrampilan dalam hal :
1. proses simbolik, seperti mengenal huruf, angka, bentuk – bentuk geometris;
2. Organisasi kognitif seperti diskriminasi perseptual, memahami hubungan di antara objek dan peristiwa, mengklasifikasikan, memilih, dan menyusun;
3. Berpikir dan memecahkan masalah;
4. Berhubungan dengan dunia fisik dan sosial..

Film ini dirancang oleh pendidik, psikolog, dan ahli-ahli media massa.
Setelah diteliti secara mendalam, baik melalui penelitian lapangan maupun penelitian eksperimen, terbukti bahwa film tersebut berhasil mempermudah proses belajar.
Digabungkan dengan dorongan orang dewasa, efek prososial kognitif ini makin kelihatan. Hal ini terlihat ketika ada siaran pendidikan televisi, yang menggabungkan unsur informasi dan hiburan, telah berhasil menanamkan pengetahuan, pengertian, dan ketrampilan.

Banyak orang memperoleh pengetahuan yang mendalam tentang bidang yang diminatinya dari berita dan pandangan yang ditampilkan oleh surat kabar, radio, dan televisi. Bahkan majalah-majalah, terutama majalah khusus yang diterbitkan untuk profesi atau kalangan tertentu, telah menjadi sumber informasi dan rujukan bagi pembacanya. Buku sudah menjadi tempat penyimpanan memori peradaban manusia sepanjang jaman. Pada buku orang menyimpan pengetahuan, dan dari buku mereka memperoleh pengetahuan.
Semua bentuk media massa telah menyumbang bagi transformasi nilai-nilai dan perbendaharaan pengetahuan dan peradaban umat manusia.

Efek Prososial Behavioral
Salah satu perilaku prososial ialah memiliki ketrampilan ayng bermanfaat bagi dirinya dan bagi orang lain. Ketrampilan seperti ini biasanya diperoleh dari saluran-saluran interpersonal seperti orang tua, teman, atasan, guru, dan sebagainya.
Dalam dunia modern sekarang ini, sebagian dari tugas mendidik telah dilakukan oleh media massa. Buku, majalah, dan surat kabar sudah diketahui mengjarkan kepada pembacanya berbagai ketrampilan. Buku teks menyajikan petunjuk penguasaan ketrampilan secara sistematis dan terarah. Majalah profesi memberikan resep-resep praktis dalam emngatrasi berbagai persoalan. Surat kabar membuka berbagai ruang ketrampilan seperti fotografi, petunjuk penggunaan komputer, rsep makanan, dan sebagainya.

Teori psikologi yang dapat menjelaskan efek prososial media massa adalah teori belajar sosial yang dikembangkan oleh Bandura. Menurut Bandura, kita belajar bukan saja dari pengalaman langsung, tapi dari peniruan atau peneladanan (modeling). Perilaku merupakan hasil faktor-faktor kognitif dan lingkungan. Artinya, kita mampu memiliki ketrampilan tertentu, bila terdapat jalinan positif antara stimuli yang kita amati dan karakteristik diri kita.

Bandura menjelaskan proses belajar sosial dalam 4 tahapan proses, yaitu :
1. Proses perhatian
2. Proses Pengingatan
3. Proses reproduksi motoris
4. Proses motivasional

1) Proses Perhatian
Permulaan proses belajar ialah munculnya peristiwa yang dapat diamati secara langsung atau tidak langsung oleh seseorang. Peristiwa itu dapat berupa tindakan tertentu (misalnya menolong orang tenggelam) atau gambaran pola pemikiran. Kita mengamati peristiwa tersebut dari orang tua kita, teman, guru, atau sajian media massa.
Kita baru dapat mempelajari sesuatu bila kita memperhatikannya. Setiap saat
kita menyaksikan peristiwa yang dapat kita teladani. Tetapi tidak seluruh
peristiwa itu kita perhatikan.
Menurut Bandura, peristiwa yang menarik perhatian ialah yagn tampak
menonjol dan sederhana, terjadi berulang-ulang, dan menimbulkan perasaan
positif pada pengamatnya.

2. Proses Pengingatan
Perhatian saja tidak cukup menghasilkan efek prososial. Khalayak harus
Sanggup menyimpan hasil pengamatannya dalam benaknya dan
memanggilnya kembali tatkala mereka akan bertindak sesuai dengan teladan
yang diberikan.

3. Proses reproduksi motoris
Tahap ini tahap menghasilkan kembali perilaku atau tindakan yang kita
amati. Untuk melakukan itu, perlu motivasi.
4. Proses Motivasional
Proses motivasional bergantung pada peneguhan. Ada 3 macam peneguhan yang mendorong kita bertindak, yaitu peneguhan eksternal, peneguhan gantian, dan peneguhan diri.
Misalnya, Pelajaran Bahasa Indonesia yang baik dan benar telah kita simpan dalam memori kita. Kita bermaksud mempraktekkannya dalam percakapan dengan kawan kita. Kita akan melakukannya hanya apabila kita mengetahui orang lain tidak akan mencemoohkan kita, atau bila kita yakin bahwa orang lain akan menghargai tindakan kita. Ini yang disebut peneguhan eksternal.

Kita akan terdorong melakukan perilaku teladan bila kita melihat orang lain yang berbuat sama mendapat ganjaran karena perbuatnnya. Inilah yang disebut peneguhan gantian.
Akhirnya tindakan teladan akan kita lakukan bila diri kita sendiri mendorong tindakan itu. Dorongan dari diri sendiri itu mungkin timbul dari perasan puas, senang, atau dipenuhinya citra diri yang ideal.


Sumber :UNIVERSITAS MERCU BUANAK, FAKULTAS ILMU KOMUNIKASI , Oleh : Drs. Riswandi, M.Si.

0 komentar:

Post a Comment

Apakah blog ini bermanfaat bagi anda ?

Blog ini dilindungi oleh hak cipta. Cantumkan link blog ini apabila menyalin sebagian/seluruh data. Powered by Blogger.