Sunday, February 13, 2011

Psikologi Pesan

0

TUJUAN INSTRUKSIONAL
Setelah memperoleh materi ini mahasiswa dapat memahami dan menjelaskan kembali tentang linguistik atau bahasa sebagai bentuk pengendalian perilaku komunikasi manusia, hubungan bahasa dengan persepsi dan berpikir, dan jenis-jenis makna.

I. Pengantar
Bahasa adalah teknik pengendalian perilaku orang lain, termasuk perilaku dalam berkomunikasi. Dengan bahasa, yang merupakan kumpulan kata-kata , Anda dapat mengatur perilaku orang lain.

Contoh :
- Ibu Anda dari Amerika dapat Anda gerakkan untuk datang ke rumah kontrakan Anda di Jakarta dengan mengirimkan kata-kata lewat telepon atau surat.
- Dengan teriakan “Bapak” seorang anak kecil dapat menggerakkan lelaki besar di seberang jalan untuk mendekati anak tersebut.
- Dengan aba-aba “maju-jalan” seorang sersan dapat menggerakkan puluhan tentara menghentakkan kakinya dan berjalan dengan langkah tegap.

Semua contoh-contoh tersebut di atas memperlihatkan bagaimana kekuatan bahasa atau kekuatan kata-kata (the power of word).
Bahasa adalah pesan dalam bentuk kata-kata dan kalimat, yang disebut pesan linguistik.
Manusia mengucapkan kata-kata dan kalimat dengan cara-cara tertentu. Setiap cara berkata memberikan maksud tersendiri. Cara-cara ini kita sebut pesan paralinguistik. Di samping itu manusia juga menyampaikan pesan dengan cara-cara lain selain dengan bahasa, misalnya dengan isyarat, yang disebut pesan ekstralinguistik.

II. Pesan Linguistik
Ada dua cara untuk mendefenisikan bahasa, yaitu fungsional dan formal.
Pertama; Definisi fungsional melihat bahasa dari segi fungsinya, sehingga bahasa diartikan sebagai “ alat yang dimiliki bersama untuk mengungkapkan gagasan”.
Kedua; Definisi formal menyatakan bahasa sebagai semua kalimat yang terbayangkan, yang dibuat menurut peraturan tata bahasa. Setiap bahasa mempunayi peraturan bagaimana kata-kata harus disusun dan dirangkaikan supaya memberi arti.

Tata bahasa meliputi 3 unsur, yaitu fonologi, sintaksis, dan semantik.
Untuk mampu menggunakan bahasa tertentu, kita harus menguasai ketiga tahap pengetahuan bahasa tersebut di atas, ditambah dua tahap lagi. Pada tahap pertama, kita harus mempunyai informasi fonologis tentang bunyi-bunyi dalam bahasa tersebut. Misalnya, kita harus bisa membedakan bunyi ‘th’ dalam “the” dengan “th” dalam “think”. Pada tahap kedua, kita harus mempunyai

pengetahuan tentang sintaxis, yaitu cara pembentukan kalimat. Misalnya dalam bahasa Inggris kita harus menempatkan “to be” pada kalimat-kalimat nominal. Pada tahap ketiga, kita harus mengetahui secara leksikal arti kata atau gabungan kata-kata. Misalnya, kita harus tahu apa arti “take” dan “take into account”. Pada tahap keempat, kita harus memiliki pengetahuan konseptual tentang dunia tempat tinggal kita dan dunia yang kita bicarakan. Dan pada tahap kelima, kita harus mempunyai semacam kepeercayaan untuk menilai apa yang kita dengar.

III. Belajar Bahasa
Bagaimana manusia belajar bahasa sudah menjadi perhatian manusia sejak berabad-abad yang lalu. Beberapa penelitan membuktikan bahwa bila seorang anak manusia dipisahkan dari lingkungan manusia, maka ia tidak mampu berbicara. Sebaliknya, kita dapat melihat seorang anak berusia 4 tahun sudah dapat berbicara dengan kawan-kawannya dalam bahasa ibunya. Teori psikologi menyajikan dua teori mengenai bagaimana manusia dpat belajar, yaitu teori belajar dan teori nativisme.

III. Teori Belajar
Menurut teori belajar, anak-anak memperoleh pengetahuan bahasa melalui tiga proses, yaitu asosiasi, imitasi, dan peneguhan.
Asosiasi berarti melazimkan suatu bunyi dengan objek tertentu.
Imitasi berarti menirukan pengucapan dan struktur kalimat yang didengarnya.
Peneguhan dimaksudkan sebagai ungkapan kegembiraan yang dinyatakan ketika anak mengucapkan kata-kata yang benar.

B.F. Skinner menerapkan ketiga prinsip ini ketika menjelaskan 3 macam respon yang terjadi pada anak-anak, yang disebutnya respon mand, tact, dan echoic.

Respon mand ketika anak-anak mengeluarkan bunyi secara sembarangan. Misalnya, anak mengeluarkan bunyi “u-u” dan orangtuanya menganggapnya sebagai permintaan(command atau demand) agar diberi air. Kemudian orang tuanya segera memberinya air. Sejak saat itu, kalau si bayi menginginkan air, maka ia segera mengucapkan “u-u”.
Respon tact terjadi bila anak menyentuh objek, kemudian secra sembarangan ia mengucapkan bunyi. Orang tuanya Mengira ia menyebutkan satu kata, dan memberikan ganjaran. Misalnya, anak menyentuh gelas yang berisi air, lalu secara sembarangan ia mengucapkan “u-u”. Orang tuanya beranggapan bahwa anak itu mengatakan minum, lalu Sejak itu ketika anak mengucapkan “u-u”, maka orang tuanya memberinya minum.
Respon echoic terjadi ketika anak menirukan ucapan orang tuanyadalam hubungan dengan stimuli tertentu. Misalnya, setiap kali ibu memberikan air segar, ia mengatakan ‘minum”. Anak mencoba menirunya dan mengucapkan “u-u”. Sang ibu gembira mendengar ucapan itu, lalu memeluk, memangkunya sambil mengucapkan kata-kata yang lembut. Inilah yang disebut seabgai peneguhan terhadap upaya imitasiyang dilakukan anak.

Menurut Noam Chomsky, setiap anak mampu menggunakan satu bahasa karena adanya pengetahuan bawaan (preexistent knowledge) yang telah diprogram secara genetik dalam otak kita. Chomsky menyebutnya sebagai L.A.D
(Language Acquisition Device). LAD tidak mengandung kata, arti, atau gagasan, tetapi hanyalah satu sistem yang memungkinkan manusia menggabungkan komponen-komponen bahasa. Walaupun bentuk luar bahasa-bahasa di dunia ini berbeda-beda, akan tetapi bahasa-bahasa itu mempunyai kesamaan dalam struktur pokok yang mendasarinya. Inilah yang disebut Chomsky sebagai linguistik universal.

Adanya dasar fisiologis dari kemampuan dasar berbahasa dibuktikan dengan penemuan bidang Broca dan bidang Wernicke pada otak manusia.
Bidang Broca mengatur sintaxis, sehingga gangguan atau kerusakan pada bidang ini menyebabkan orang berbicara terpatah-patah dengan susunan kata yang tidak teratur. Kerusakan pada bidang Wernicke menyebabkan orang berbicar lancar tetapi tidak mempunyai arti.
Teori perkembangan mental dari Jean Piaget memprkuat teori Chomsky dengan menunjukkan adanya struktur universal yang menimbulkan pola berpikir yang sama pada tahap-tahap tertentu dalam perkembangan mental anak-anak. Kedua ahli membuktikan bahwa otak manusia bukanlah penerima pengalaman yang pasif, bukan papan tulis yang kosong, tetapi sebuah organ yang diperlengkapi dengan kemampuan-kemampuan bawaan. Penelitian eksperimen membuktikan bahwa, otak anak sejak lahir telah membawa prinsip-prinsip berbahasa yang sesungguhnya bukan merupakan proses hasil belajar.
Singkatna, bahasa merupakan proses interaksi di antara proses biokimia, faktor-faktor kematangan, strategi belajar, dan lingkungan sosial. Dalam konteks komunikasi, kedua teori tersebut di atas memberikan dasar bagi kita dalam menanmkan kemampuan menyusun pesan linguistik atau konsep-konsep baru pada komunikate.

IV. Bahasa dan Proses Berpikir
Menurut teori principle of linguistic relativity, bahasa menyebabkan kita memandang realitas sosial dengan cara tertentu. Teori ini dikembangkan oleh Von Humboldt, Sapir, dan Whorf.

Menurut Whorf, pandangan kita tentang dunia dibentuk oleh bahasa, dan karena bahasa berbeda, maka pandangan kita tentang dunia juga berbeda.
Secara selektif, kita menyaring data sensori yang masuk seperti telah diprogram oleh bahasa yang kita pakai. Dengan demikian, masyarakat yang menggunakan bahasa yang berbeda hidup dalam dunia sensori yang berbeda pula.
Menurut Whorf, kategori gramatikal suatu bahasa menunjukkan kategori kognitif dari pemakai bahasa itu. Seperti halnya tentang persepsi, kita melakukan persepsi dengan menggunakan kategori kognitif. Kita juga berpikir dengan memakai kategori-kategori ini. Kita memberikan arti kepada apa yang kita lihat, yang kita dengar, atau yang kita rasa sesuai dengan kategori-kategori yang ada dalam bahasa kita.

Dalam hubungannya dengan berpikir, konsep-konsep dalam suatu bahasa cenderung menghambat atau mempercepat proses pemikiran tertentu.
Ada bahasa yang dengan mudah dapat digunakan untuk memikirkan masalah-masalah filsafat, tetapi ada juga bahasa yang sukar dipakai bahkan untuk memecahklan masalah-masalah matematika yang sederhana.

Bahasa terbukti mempermudah kemampuan belajar dan mengingat, memecahkan persoalan, dan menarik kesimpulan.
Bahasa memungkinkan kita untuk menyandi peristiwa-persitiwa dan objek-objek dalam bantuk kata-kata. Dengan bahasa, kitaa mengabstraksikan pengalaman kita, dan mengkomunikasikannya pada orang lain.
Yang perlu diingat adalah , bahwa kata-kata juga dapat menghambat proses berpikir. Hal ini terjadi bila ada kebingungan dalam mengartikan kata-kata.

V. Kata-kata dan Makna
Ada 3 jenis makna sebagai berikut :
1. Makna Inferensial,yaitu makna satu lambang atau kata adalah objek.
Proses pemberian makna ini terjadi ketika kita menghubungkan lambang dengan yang ditunjukkan lambang (disebut rujukan atau referent). Satu lambang dapat menunjukkan banyak rujukan.
Misalnya “jari-jari” dapat menunjukkan setengah diameter, bagian dari roda sepeda, atau bagian dari tangan.
2. Makna yang kedua menunjukkan arti (significance) suatu istilah sejauh
dihubungkan dengan konsep-konsep yang lain.
3. Makna yang ketiga adalah makna intensional, yakni makna yang dimaksudkan oleh seorang pemakai lambang. Makna ini tidak dapat divalidasi secara empiris atau dicarikan rujukannya. Makna ini terdapat pada pikiran orang, dan hanya dimiliki oleh dirinya saja.

Dari perspektif psikologi, makna tidak terletak pada kata-kata, tetapi pada pikiran orang atau pada persepsinya. Makna terbentuk karena pengalaman individu.
Kesamaan makna karena kesamaan pengalaman masa lalu atau kesamaan struktur kognitif disebut isomorfisme. Isomorfisme terjadi bila komunikan-komunikan berasal dari budaya yang sama, pendidikan yang sama, status sosial yang sama, ideologi yang sama, dan seterusnya.
Orang-orang dalam kelompok yang sama bahkan sering mengembangkan kata-kata yang dimiliki secara khusu oleh kelompok mereka saja.
Dengan perkataan lain, setiap profesi mengembangkan bahasanya sendiri.

Yang perlu ditekankan adalah bahwa isomorfisme total tidak pernah terjadi. Kita semua menyimpan makna perseorangan, terutama kalau kita berbicara tentang makna konotatif.
Makna konotatif menunjukkan asosiasi emosional yang mempengaruhi reaksi kita terhadap kata-kata. Misalnya kata-kata babu, pelayan, pembantu, pramuwisma, mempunyai makna konotatif yang berbeda. Begitu pula kata kuli, buruh, pegawai, dan karyawan. Kata demokrasi bermakna konotatif baik, sedangkan diktatur bermakna konotatif jelek.

Kita sedapat mungkin menghindari kata-kata dengan konotasi negatif dan menggantinya dengan kata-kata yang berkonotasi positif. Misalnya pejabat melaporkan adanya “daerah rawan pangan”, tidak menyebutkan “daerah kelaparan”. Bapak X tidak ditahan, akan tetapi “diamankan”. Putra ibu tidak bodoh, hanya “lambat belajar”. Harga-harga tidak naik, hanya “disesuaikan”.

Alfred Korzybsky, seorang ahli bahasa mengemukakan pandangannya tentang bahasa sebagai berikut :
1)Berhati-hati dengan abstraksi
Bahasa menggunakan abstraksi. Abtraksi adalah proses memilih unsur-unsur realitas untuk membedakannya dari hal-hal yang lain. Ketika kita melakukan kategorisasi, kita menempatkan realitas dalam kategori tertentu. Untuk membuat kategori, kita harus memprhatikan hanya sebagian dari sifat-sifat objek.
Contoh : Buku; buku adalah kategoiri yang didasarkan pada kenyataan bahwa ia adalah kumpulan kertas yang dijilid. Jadi buku yang ada pada anak SD, buku anak SMP, buku di kantor, dan buku yang ada di perpustakaan.

Kata-kata yang kita pergunakan berada padaa tingkat abstraksi yang bermacam-macam. Semakin tinggi tingkat abstraksi kata, semakin sukar kata itu diverifikasi dalam kenyataan, dan makin ambigu makna kata itu.
Contoh :
A. Ilham : Adalah nama seorang pemuda : Tingkat Abstraksi : rendah
B. Pekerjaan : Mahasiswa FIKOM : ; ; : lebih tinggi
C. Kelompok pendidikan
D. Pencari ilmu
E. Pria
F. Manusia

2) Berhati-hati dengan Dimensi Waktu
Bahasa itu statis, sedangkan realitas dinamis. Ketika Anda berekasi pada satu kata, Anda sering menganggap makna kata itu masih sama. Lima tahun yang lalu anda bertemu dengan Rini. Sekarang Anda membicarakan Dia seolah-olah Anada membicarakan Rini yang lima tahun yang lalu. Padahal ia telah banyak berubah.

3) Jangan Mengacaukan Kata dengan Rujukannya
4) Jangan Mengacaukan Pengamatan dengn Kesimpulan
Ketika melihat fakta, kita membuat pernyataan untuk melukiskan fakta itu. Pernyataan itu kita sebut pengamatan. Kita menarik kesimpulan bila menghubungkan hal-hal yang diamati dengan sesuatu yang tidak teramati. Dalam pengamatan, kta menghubungkan lambang dengan rujukan. Dalam kesimpulan kita menggunakan pemikiran.

VI. Pesan Nonverbal
Mark L. Knapp mengemukakan 5 fungsi pesan nonverbal sebagai berikut :
1. Repetisi
Artinya mengulang kembali gagasan yang sudah disjikan secara verbal.
Contoh : setelah saya menjelaskan penolakan saya, saya lalu menggelengkan kepala berkali-kali.
2. Substitusi
Artinya menggantikan lambang-lambang verbal.
Contoh : Tanpa sepatah katapun yang keluar dari mulut Anda, Anda dapat menunjukkan persetujuan dengan mengangguk-angguk.
3. Kontradiksi
Artinya menolak pesan verbal atau memberikan makna yang lain terhadap pesan verbal.
Contoh : Anda memuji prestasi teman Anda dengan mencibirkan bibir Anda “Hebat, kau memang hebat”.
4. Komplemen
Artinya melengkapi dan memperkaya makna pesan nonverbal.
Contoh : Air muka Anda menunjukkan tingkat penderitaan yang tidak terungkap dengan kata-kata.
5. Aksentuasi
Artinya menegaskan atau menggarisbawahi pesan verbal
Contoh : Anda mengungkapkan kejengkelan Anda dengan memukul meja.

Dale G. Leathers menyebutkan 6 alasan mengapa pesan nonverbal penting :
1. Faktor-faktor nonverbal sangat menentukan makna dalam komunikasi interpersonal
Misalnya, ketika kita mengobrol dengan tamu kita, kita banyak menyampaikan gagasan dengan pesan-pesan nonverbal.
2. Perasaan dan emosi lebih cermat disampaikan lewat pesan nonverbal
ketimbang pesan verbal.
Mahrabian telah meneliti bahwa hanya 7% rasa kasih sayang dapat
dikomuniaksikan dengan kata-kata. Selebihnya 38% lewat suara,
dan 55% dikomunikasikan lewat wajah (senyum, kontak mata, dll).
3. Pesan nonverbal menyampaikan makna dan maksud yang relatif
Bebas dari manipulasi, distorsi, dan kerancuan.
4. Pesan nonverbal mempunyai fungsi metakomunikatif yang sangat diperlukan untuk mencapai komunikasi yang berkualitas tinggi.
Fungsi metakomunikatif artinya memberikan informasi tambahan yang memperjelas maksud dan makna pesan.
5. Pesan nonverbal merupakan cara komunikasi yang lebih efektif
dibandingkan dengan pesan verbal.
6. Pesan nonverbal merupakan sarana sugesti yang paling tepat.
Ada situasi komunikasi yang menuntut kita untuk mengungkapkan gagasan atau emosi secara langsung. Sugesti di sini dimaksudkan menyarankan sesuatu kepada orang lain secara implisit.
Sugesti paling efektif disampaikan melalui pesan-pesan nonverbal.



Sumber :UNIVERSITAS MERCU BUANAK, FAKULTAS ILMU KOMUNIKASI , Oleh : Drs. Riswandi, M.Si.

0 komentar:

Post a Comment

Bikin Website GRATIS.. Kalo mau nanya-nanya email ke gw aja, GRATIS kok..

Free Website Hosting

Apakah blog ini bermanfaat bagi anda ?

Blog ini dilindungi oleh hak cipta. Cantumkan link blog ini apabila menyalin sebagian/seluruh data. Powered by Blogger.